Tuesday, 4 June 2013

Hal Menyontek

Menyontek teman sebelah
Menyontek. Hal tersebut adalah hal yang sudah tidak perlu kita bahas lebih banyak lagi, karena pasti temen-temen sudah pada tahu semua tentang hal ini.

Jika belum tau, menyontek adalah suatu perbuatan untuk mengambil milik orang lain. Dalam gambar disamping berarti dalam ujian dan dalam hal ini adalah menyamakan jawaban kita dengan dia.



Ada beberapa cara untuk menyontek, namun aku tidak sedang membahas hal tersebut. Jika ingin mengetahui atau mempraktekkan hal tersebut, klik nih link ini (Saonone's Online Notes - Berbagai Macam Cara Nyontek). Dijamin kamu kamu semua bakal tau cara yang ampuh (menjadi seorang pecontek "profesinal") dan tidak ampuh (menjadi pecontek "amatir") dalam hal ini.

Yang sedang kubahas adalah akibat baik dan buruknya mencontek itu. Baiknya mencontek itu enak, asyik, dapet nilai yang bagus tanpa belajar, dan hal-hal enak yang lainnya. Namun, buruknya lebih mengerikan. Setelah kalian mengikuti tes masuk perguruan tinggi (entah itu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri jalur tulis (tahun ini disebut Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri), Ujian Mandiri Perguruan Tinggi [yang banyak namanya], dan tes-tes yang lainnya, kalian bakal menyesal. Mengapa? Karena belum tentu teman-teman kita satu ruangan dan mau menyonteki kita. Kita juga bakal gak mengenal orang-orang yang mengikuti tes tersebut, karena mereka berasal dari mana-mana (berbagai kota, sekolah, dan latar belakang) dan semuanya akan berkonsentrasi untuk mengerjakan soal-soal tersebut.

Dan setelah kita menjejakkan kaki di kampus yang kita tempati, kita juga akan merasakan hal tersebut. Banyak mahasiswa-mahasiswi yang mencontek saat ujian, karena saat kuliah biasa mereka tidak ikut (membolos) kuliah, menitipkan absen kepada teman yang bisa diajak, datang terlambat, dan lain sebagainya. Sehingga saat ujian, ada mahasiswa yang tertangkap tangan sedang menyontek (entah ke teman atau membawa catatan) dan dia mendapat nilai 0 (nol) pada ujian mata kuliah tersebut. Itu adalah mahasiswa pecontek amatir. Beda lagi dengan mahasiswa yang pecontek profesional, yang kerjaannya setelah kuliah adalah nongkrong dan ngobrol sama teman-temannya bahkan malamnya dia dugem asyik di salah satu klub malam sampai pagi. Dia cukup melihat kanan kiri dan menutupi dirinya dengan orang di depannya agar tidak terlihat oleh pengawas. Dan jika pengawasnya jalan-jalan, dia berpura-pura mengerjakan soalnya. Padahal nggambar gak jelas haha. Hasil yang didapatpun lumayan baiklah. Minimal B.

Kalau aku? Aku jujur, saat ujian tertulis pertamaku saat menjadi seorang mahasiswa, aku sudah berkomitmen untuk tidak menyontek. Dan hasilnya lumayan, IPK-ku di semester 1 3,00. Walaupun ada temen-temen yang dapet IPK lebih dari itu, aku lumayan bangga dengan hasilku sendiri.

Jadi, semuanya butuh proses, termasuk juga hasil ujian. Jika kalian mau menyontek selama masih sekolah maupun kuliah, silahkan. Aku tidak mewajibkan kamu untuk tidak jujur. Tapi ada konsekuensi yang harus ditanggung untuk masa depan kalian. Lihat saja berita-berita di televisi, radio, maupun media yang lain. Isinya korupsi melulu, antara lain tertangkap tangan menyogok petugas kepolisian untuk memiliki Surat Ijin Mengemudi, menyogok seorang Direktur Utama suatu perusahaan terkemuka untuk meloloskan kerja sama, dan lainnya.

Cerita ini kututup dengan sharingku saat kududuk di bangku sekolah menengah pertama maupun atas.

Aku mengenal menyontek saat kelas 7 SMP dimana ada teman yang ingin menjawab soal yang diberikan oleh guru dan dengan polosnya aku memberikan jawaban yang telah kubuat. Dan temanku itu mendapat nilai yang bagus dan aku iri. Karena nilai yang kudapat tidak bagus. Mulailah aku "berguru" kepada dia dan akhirnya mendapat nilai yang bagus pada ulangan/tes/ujian mata pelajaran yang lain. Namun, aku menyontek pada soal yang tidak bisa kujawab sendiri, sedang soal yang bisa kukerjakan, kukerjakan sendiri.

Hal ini terjadi selama aku mengikuti ujian dan tidak sampai ketahuan oleh pengawas maupun guru mata pelajaran tersebut. Sampailah aku "mendaki" ke kelas 9 dengan nilai yang pas-pasan, yang penting naik kelas dan saatnya mengikuti ujian akhir. Ada beberapa ujian akhir, yaitu Ujian Praktik, Ujian Akhir Sekolah (UAS), dan yang terakhir Ujian Nasional (UN). Sebelum mengikuti UN, ada guru yang berpesan kepada kami, supaya teman-teman yang pintar membantu teman-teman yang tidak pintar agar lulus UN. Dan titah guruku itupun dikerjakan oleh teman-temanku yang sedari dulu sudah pintar. Dia membagikan jawabannya kepada temanku yang tidak pintar itu. Dan aku hanya menyamakan jawabanku ke dia haha (sama aja nyontek bung).

Lulus deh dari SMP dan mendaki lebih lanjut ke SMA.

Tantangan di jenjang ini lebih berat guys. Setelah aku menggabungkan diriku dengan KTB (Kelompok Tubuh Bersama) sejak kelas 1, ada banyak rintangan agar aku berhenti menyontek. Ajaran dari KTB tersebut yang mempengaruhi. Namun aku tetap menyontek, walaupun sudah ada komitmen untuk tidak menyontek. Hal itu sulit dijauhkan dariku. Dan hasil-hasil yang kuterima emang tidak baik semua. Semua nilai mata pelajaran ada di bawah rata-rata kelas. Sejak itu aku bertekad untuk tidak menyontek lagi, namun untuk menyonteki teman yang tidak handal di mata pelajaran terkait, aku sulit. Karena selain kehilangan teman, kalian juga bakal dijauhi oleh teman-teman yang lain karena dianggap tidak setia kawan dan diolok-olok.

Kisah selanjutnya adalah saat Ujian Nasional kelas 12 dan soalnya ada 5 jenis (tahun-tahun sebelumnya hanya ada 2 jenis). Namun anehnya, ternyata ada kunci jawaban untuk soal-soal tersebut. Aku berpikir, "Pintar sekali orang ini mengerjakan 50 soal IPA dan IPS (dari 5 jenis soal dan mata pelajaran yang diujikan [Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika IPA, Matematika IPS, Biologi, Sejarah, Ekonomi, Geografi, Fisika, dan Kimia]). Tapi bener juga sih kalau yang ngerjain ada beberapa kelompok. Jadi orang tersebut gak stress, ngerjain soal-soal itu semua sendirian."

Pengalamanku sendiri, menyontek saat UN adalah gampang. Karena sebelum UN, kami diminta sudah datang di sekolah lebih awal agar menerima jawaban. Jawaban itu datang melalui jarkom atau jaringan komunikasi antar kelas, serta jawaban itu kutulis di balik kartu pengenal UN (cocard). Dalam mengerjakan soal UN itu emang bener-bener susah. Ada sih soal yang bisa kukerjakan, tapi tidak sedikit pula soal yang tidak bisa kukerjakan. Dan aku melakukan sesuatu yang salah. Kubukalah cocard itu dan menengok belakang kertas itu, lalu kusalin di lembar jawaban UN. Padahal kalian tahu, tempat dudukku saat UN SMA ada di depan sendiri, pojok sebelah kiri. Jadi emang kemungkinan besar akan tertangkap basah. Saat pengumuman pun, akhirnya aku lulus dengan nilai rata-rata 8,1, walaupun masih kalah oleh teman-temanku.

Dan kesalahanku adalah aku tidak diterima dalam ujian universitas negeri manapun juga (Ujian Masuk D3 Undip jalur kerjasama PLN, UM Politeknik Negeri Semarang, SNMPTN, dan UM jalur khusus UI) dan akhirnya keterima di universitas swasta yang terkenal di kota Semarang ini.

Inilah pengalaman dosa yang kuceritakan kepada kalian semua. Jadi bagi yang membaca, kalian bisa mengetahui latar belakangku dahulu seperti bagaimana. Terima kasih

Categories: , ,

2 comments:

  1. Replies
    1. haha mau gimana lagi gan? tapi sekarang ane sadari itu kudu dijauhi, bisa mengutuk kita malah di masa depan.. :)

      Delete

Aswida's Article
Jangan lupa untuk selalu mencantumkan komentar, kritik dan saran bagi perkembangan blog ini.

Komentar bisa dihapus apabila MENGANDUNG SARA, PROVOKASI, HAL-HAL YANG TIDAK BAIK dan PERKATAAN YANG TIDAK TERPUJI.

>>KEEP BLOGGING FOR ALL BLOGGERS<<

Quote's Today

Statistik Blog

PageRank Checking Icon asp hit counter free counters
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...